Alex Kurniawan Kepala Redaksi Ak8media.com Ak8media.Com - Bahaya stunting mangancam anak-anak dan bangsa kita hampir dari 9 juta a...
![]() |
| Alex Kurniawan Kepala Redaksi Ak8media.com |
Stunting adalah kondisi masalah gizi
kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya
karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi
mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.
Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak
usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat)
dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran
WHO. Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga
dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan
kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Menaggapi
permasalahan tingginya angka stunting
di indonesia menteri pembangunan manusia dan kebudayaan puan maharani beberapa
bulan yang lalu untuk mendorong penganan menganai stunting segera dilakaun
dengan melakukan kordinasi antara seluruh aspek yang berhungan terkait
permasalahan stunting seperti halnya pada kementerian PU, kementerian
kesehatan, kementerian desa, dan BKKBN untuk bersama-sama dalam mneyelasaikan
permasalahan ini, dalam artian penyelesaian dengan melakukan pencegahan dan
solusi bagia yang sudah mengidap stunting.
Di Jawa Timur angka mengenai stunting cenderung tinggi
dan harus patut di waspadai, berdasarkan survey PSG 2016 tercatat hanya ada
enam kabupaten/kota yg tidak bermasalah dengan stunting. Daerah-daerah tersebut
adalah Kota Mojokerto 11,9%, Blitar 12%, Madiun 14,7%, Kabupaten Gresik 17,6%,
Jombang 19,2%, dan Blitar 19,7%. Jika melihat dari hasil survey tersebut
artinya selain dari enam kabupaten yang ada di Jawa Timur tesebut merupakan
kabupaten yang mengidap kasus stunting
baik dalam kategori ringan maupun sedang, Di Jawa Timur daerah yang bervalensi
stunting kategori sedang sebanyak delapan kabupaten/kota. Selain Jember,
Sumenep, dan Bangkalan, juga Bondowoso (34.6%), Pamekasan (33.2%), Lumajang
(30.6%) dan Bojonegoro (30.1 %). Sementara, untuk perkotaan prevalensi stunting sedang hanya di Kota Batu (32.7
%), selain dari kabupaten atau kota yang masuk dalam kategori stunting sedang adalah sisanya kabupaten
atau kota yang masuk dalam kategori
stunting ringan, namun ada kalanya kita patut mewaspadai jika kabupaten
atau kota baik yang sudah masuk dalam kaategori angka stunting ringan maupun
sedang jika tidak segera ditangani dari dinas terkait tidak dipungkiri akan
naik status angka stuting menjadi berat, dan tentunya akan membawa dampak yang
kurang baik pada Jawa Timur kedepanya baik dalam segi ekonomi pendapatan
perkapita maupun sumber daya manusianya
Dalam hal ini Jawa Timur harus segera menyusun sebuah
langkah upaya yang dimana dengan perlunya ditingkatkan kordinasi antara dinas
yang terkait kasus stunting,
mengingat stunting juga bukan hanya faktor karena gizi semata saja tapi juga
dibarengi dari kehidupan sanitasi masyarakat juga termasuk menganai lingkungan
bersih, hal inilah yang seharusnya perlu dicermati oleh dinas yang terkait,
sehingga permasalhan stunting tidak hanya bermuara pada dinas kesehatan
masyarakat saja. Tapi ada yang lebih penting dari semuanya adalah upaya
pencegahan terhadap stunting itu sendiri, pencegahan terhadap kasusu stunting
sendiri dapat dilakukan dengan perbaikan layanan kesehatan, Pemantauan
pertumbuhan, perbaikan gizi, perbaikan sanitasi, perbaikan pola makan bumil dan
menyusui, pola asuh makan baduta, livelihood oleh dinas yang terkait. Jika
upaya tersebut dianggap remeh maka bagaimana genereni kita selanjutnya
mengingat indonesia pada tahun 2014 menuju pada indonesia emas, jika saat ini
salah mengahadapi atau mempersiapkan generasi menuju indonesia emas tentunya
akan berujung pada sebuah permasalahan besar, tapi patut kita cermati jika Jawa Timur prevalensi keseluruhan terkait
kasus stunting adalah 25% maka kekuatan kompetisi generasi muda Jawa
Timur di 25 tahun ke kedepan hanya 75%, lalu brpa biaya penanganannya selama 25
tahun untuk yang 25% terkait stunting agar mampu berkompetisi ?. namun
adakalanya saat ini yang seharusnya dilakukan baik secara pribadi maupun secara
pemerintahan Jawa Timur adalah bukan lagi melihat data persentase sebuah angka
terkait kasus stunting yang ada di Jawa Timur, namun kita seharusnya bisa mawas
diri dan membangun semua elemen baik masyarakat biasa ataupun dari kalangan
akademik untuk turun langsung ke masyrakat mengenai apa itu stunting , bahaya stunting , penanganan stunting dan lebih penting adalahan bagaimana pencegahan stunting itu sendiri, sehingga hal tersebut bisa memberikan dampak
langsung yang baik pada masyarakat, lebih khususnya pada masyarakat yang ada di
pedesaan dan tergolong masih dalam daerah yang tertinggal dalam segi
perekonomianya. (Tomy)



COMMENTS