Ak8media.com - Acara yang diselenggarakan oleh kompas TV pada (21/12/2017) setidaknya memberikan sedikit gambaran pencerahan masyarak...
Ak8media.com - Acara yang diselenggarakan oleh kompas TV pada (21/12/2017) setidaknya memberikan sedikit gambaran pencerahan masyarakat jawa timur dalam menentukan pilihannya pada kontestasi pilgub jatim 2018 mendatang.
Banyak kalangan masyarakat termasuk kalangan pengamat politik yang menganggap bahwa pada malam acara tersebut merupakan awal sebuah pemanasan dari masyarakat jawa timur sebelum menentukan pilihannya nanti, salah satunya adalah Mochtar.
menurut Mochtar selaku pengamat politik dari universitas Trunojoyo Madura menuturkan, “Meski tampil dalam beda sesi dan tidak diperhadapkan secara langsung, setidaknya acara Perang Bintang Pilgub Jatim di Kompas TV semalam sedikit mengobati keingintahuan publik bagaimana saat ke dua paslon tampil bersama dihadalan publik untuk menyampaikan sedikit pikiran dan gagasannya”.
Saat disinggung bagaimana penampilan kedua paslon pada acara yang bertemakan perang bintang pilgub jatim, pria yang kerap disapa dengan pak Mochtar tersebut menjelaskan, “Emil Dardak mampu tampil dengan bagus, rileks dan tampak percaya diri sementara KIP (Khofifah Indar Parawansah) meski secara gestur juga tampak rikeks dan banyak senyum tapi dalam menjawab pertanyaan host cenderung tidak taktis krn terlihat normatif dan muter-muter”, sementara pada pasangan Gus Ipul-Anas Mochtar menuturkan “Anas terlihat kehilangan auranya selama ini karena tampil tanpa kopiah yang menjadi brand performancenya selama ini. Upaya tampil sebagai sosok nasionalis tanpa kopiah justru memudarkan aura Anas yg kuat saat berkopiah. Sementara GI (Gus Ipul) terlihat terlalu serius, sehingha menimbulkan kesan tegang dan lelah. Ini juga keluar dari brand performance GI selama ini yang dikenal santai, gaul, banyak senyum dan ramah”.
Dalam kesempatan itu juga Mochtar menambahkan bahwa “Chemistry antara Khofifah-Emil nampak lebih dapet baik dalam hal statment, facework maapun gestur tubuh selama acara berlangsung dibanding Gus Ipul-Anas”, namun Mochtar sedikit menyayangkan dari host yang memandu acara tersebut mengingat Secara umum apa yang menjadi pikiran dan gagasan kedua paslon tidak begitu tertangkap oleh publik karena host Rosi terlalu dominan mengambil panggung dan sering memotong penyampaian kedua paslon. Ungkap pria yag sekaligus menjadi Direktur Surabaya Survey Center tersebut.
Untuk melihat kapasitas, kualitas dan performance kedua paslon, memang tidak cukup untuk melihat dari apa yang disiarkan tadi malam, apalgi dengan durasi waktu yang sedikit, “Andai ditampilkan berhadapan dalam satu sesi mgkn akan menjadi lebih jelas bagi publik bagaimana menangkap ide dan gagasan kedua paslon, serta bisa menilai secara komparattif tentang bagaimana kapasitas, kualitas dan performance kedua paslon” pungkas Mochtar.
Dari apa yang tersaji pada acara yang bertajuk perang bintang pilgub Jatim tersebut menjadikan masyarakat Jawa Timur untuk bisa cerdas dalam memilih pasangan gubernur Jawa Timur 5 tahun mendatang, (red)



COMMENTS