Ak8media.com - Tak ada yang meragukan bahwa Dahlan Iskan adalah salah satu media mogul – sebutan untuk taipan media – yang paling berp...
Ak8media.com - Tak ada yang meragukan bahwa Dahlan Iskan adalah salah satu media mogul –
sebutan untuk taipan media – yang paling berpengaruh di Indonesia.
Bersama dengan Jakob Oetama dari Kompas Gramedia, Dahlan Iskan dengan
Jawa Pos adalah “rival” dalam artian yang sesungguhnya. Keduanya
sama-sama punya latar belakang wartawan, namun juga sekaligus punya
insting bisnis yang mumpuni.
Namun, seiring usia, dua tokoh ini sepertinya ikut termakan perubahan zaman. Setelah Kompas Gramedia mengalami “shifting paradigm”, kini hal serupa juga disebut-sebut sedang dialami oleh Jawa Pos dan Dahlan Iskan.Maka benarlah kata-kata Heraclitus: tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan.
Sejak pertengahan November 2017 lalu, berhembus kabar bahwa Dahlan
sedang berencana untuk melego kepemilikan sahamnya di grup Jawa Pos
kepada para pemilik saham lain. Sontak pemberitaan yang dimuat di portal
berita Warta Ekonomi ini mengundang perhatian banyak pihak, terutama para pegiat media.
Kabar yang berhembus menyebutkan saham Dahlan akan dilego ke taipan
bisnis Ciputra yang juga menjadi salah satu pemilik saham mayoritas di
grup Jawa Pos – walaupun grup Ciputra kemudian membantah hal tersebut.
Sehari setelah berita tersebut dimuat, Dahlan dikabarkan memang membatalkan niatnya itu. Namun, para pegiat media
dan orang-orang yang pernah bekerja sama dengan Dahlan telah melihat
indikasi kemungkinan perubahan signifikan yang akan terjadi pada Jawa
Pos pasca kejadian tersebut.
Fakta bahwa perkembangan teknologi informasi menggerus posisi koran
memang menjadi pukulan untuk para taipan media, utamanya yang usahanya
besar dari koran. Tanpa pembacaan kondisi bisnis yang baik, sulit untuk
melihat perusahaan media bisa bertahan dalam tahun-tahun ke depan.
Bagi Dahlan, sejak pemberitaan tersebut mencuat ke permukaan, muncul
berbagai spekulasi terkait masa depan mantan Menteri BUMN ini di grup
bisnis media yang dibesarkan olehnya itu.
Selain karena berbagai kasus terkait dugaan korupsi yang dituduhkan
kepadanya, beberapa pihak menyebut persoalan juga terjadi di internal
Jawa Pos sebagai akibat dari “kegagalan” Dahlan meregenerasi pucuk
pimpinan bisnis yang mengantarnya masuk daftar 150 orang terkaya di
Indonesia pada tahun 2013 versi Majalah Globe Asia.
Lalu, apakah ini akhir dari perjalanan Dahlan Iskan di Jawa Pos?
Dahlan Iskan adalah Jawa Pos
Bukan tanpa alasan banyak pihak mengidentikkan Jawa Pos dengan Dahlan
Iskan. Jawa Pos adalah Dahlan Iskan, dan Dahlan Iskan adalah Jawa Pos.
Setelah Jawa Pos diakuisisi oleh PT Grafiti Pers yang merupakan
penerbit majalah Tempo pada tahun 1982, Eric Samola selaku presiden
direktur perusahaan tersebut, menunjuk Dahlan Iskan untuk memimpin Jawa
Pos. Dahlan yang saat itu menjabat sebagai kepala biro Tempo Surabaya
dipercayakan untuk memegang tampuk kepemimpinan di puncak Jawa Pos.
Dahlan-lah menjadi tokoh utama yang mengubah Jawa Pos dari koran yang
beroplah hanya 6.000 eksemplar per hari menjadi 300.000 eksemplar per
hari hanya dalam 5 tahun.
Cita-cita membesarkan Jawa Pos juga yang akhirnya melahirkan Jawa Pos
News Network (JPNN) yang menjadi salah satu jaringan koran terbesar di
Indonesia.
Insting
bisnis Dahlan membuat Jawa Pos berkembang dari hanya entitas koran,
menjadi kerajaan media dengan 174 koran dan majalah, 43 stasiun TV dan
radio, 28 percetakan, 1 pabrik kertas dan 2 pembangkit listrik
independen. Jika grup Kompas dianggap sebagai penguasa di wilayah barat,
maka Jawa Pos menjadi penguasa di wilayah timur dengan Surabaya sebagai
pusatnya.
Berkembangnya Jawa Pos juga ikut berdampak pada Dahlan secara
pribadi. Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur ini diperkirakan mempunyai
kekayaan sekitar US$ 370 juta
pada tahun 2013. Ia juga menyebut dirinya sangat mungkin menembus
daftar 30 besar orang terkaya di Indonesia andai tidak pensiun dari Jawa
Pos.
Namun, nasib Dahlan dan Jawa Pos mulai berubah setelah pria yang
lahir pada 17 Agustus 1951 atau saat Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan
ke-6 itu mempercayakan grup bisnis tersebut ke anaknya, Azrul Ananda.
Dahlan sibuk di luar perusahaan, apalagi pasca diangkat menjadi Direktur
Utama PLN pada tahun 2009, menyusul jabatan menteri BUMN pada 2011.
Azrul atau yang dikenal dengan nama kecil Ulik menjadi “putera
mahkota” kerajaan bisnis Jawa Pos. Ia adalah lulusan perguruan tinggi
luar negeri. Namun, ijazah International Marketing dari Universitas California Amerika Serikat nyatanya dianggap belum mampu menyejajarkan insting bisnisnya dengan sang ayah.
Beberapa sumber juga menyebut posisi Azrul di Jawa Pos juga melahirkan konflik internal yang melibatkan baik petinggi di perusahaan koran Jawa Pos, petinggi di grup bisnis, hingga di lingkaran para pemegang sahamnya.
Keinginan Ulik untuk melebarkan bisnis dengan memiliki klub sepakbola (Persebaya), membuat kompetisi bola basket bertajuk Development Basketball League (DBL), dan berbagai ide lain faktanya tidak berdampak banyak secara bisnis bagi Jawa Pos.
Bahkan beberapa pihak menyebut gaya kepemimpin Ulik terkesan “seenaknya”. Ia juga disebut
memiliki hubungan yang kurang baik dengan tokoh-tokoh senior dan jajaran
redaksi Jawa Pos sendiri. Akibatnya, lingkungan internal Jawa Pos
sendiri menjadi tidak kondusif.
Dampaknya, secara bisnis Jawa Pos terus mengalami penurunan.
Pada tahun 2013 pendapatan koran Jawa Pos masih mantap di angka Rp
686,56 miliar. Namun, mulai tahun 2014 pendapatan Jawa Pos menurun tipis
ke angka Rp 653,57 miliar. Pada 2015 dan 2016, angka tersebut terus
menurun hingga Rp520,40 miliar. Penurunan paling tajam terjadi pada
tahun 2017. Hingga Oktober 2017, pendapatan Jawa Pos baru berkisar Rp
345,57 miliar.
Turunnya pendapatan, otomatis mempengaruhi laba perusahaan. Pada
2013, koran JP tercatat meraup laba bersih Rp257,52 miliar. Selang tiga
tahun berikutnya, jumlah laba hanya mencapai Rp 148,81 miliar. Laba ini
juga merosot lagi pada 2017 karena hingga Oktober 2017, laba bersih Jawa
Pos diperkirakan baru sekitar Rp 65 miliar.
Performa bisnis yang terus menurun inilah yang dipercaya menjadi
salah satu alasan mengapa Dahlan Iskan disebut-sebut ingin melego
kepemilikan sahamnya. Selain grup Ciputra, saham Jawa Pos juga masih
dimiliki oleh keluarga Samola, serta beberapa pihak lain termasuk
pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohamad.
Banyak pihak yang menganggap apa yang terjadi di Jawa Pos adalah
akibat dari “kegagalan regenerasi”. Pasca didera kasus hukum terkait
dugaan korupsi dan mengalami gangguan kesehatan, posisi Dahlan di Jawa
Pos memang terus menurun, seiring performa perusahaan yang juga disebut
terus memburuk secara keseluruhan.
Tampuk kekuasaan yang ada di pundak sang anak nyatanya tidak mampu
mendatangkan hal positif untuk perusahaan tersebut, apalagi dalam
beberapa kesempatan Dahlan seolah terlihat “putus hubungan” dengan
perusahaan yang dibesarkannya itu, terutama pasca sibuk dengan urusan
menteri atau ketika mencalonkan diri menjadi presiden melalui konvensi
di beberapa partai politik.
Lalu, apakah ini menjadi epilog dari kekuasaan pria penyuka olahraga senam itu di Jawa Pos?
Akhir Kejayaan The Media Mogul?
Kondisi yang menimpa Jawa Pos dan Kompas Gramedia adalah akibat dari
perubahan yang signifikan dalam teknologi informasi dan komunikasi.
Koran sebagai media informasi lama nyatanya mulai tergantikan oleh
kehadiran media daring yang makin menjamur dan tidak terkendali
pertumbuhannya.
Tidak heran, ketika wartawan Kompas, Bre Redana membuat tulisan berjudul Inikah Senjakala Kami? yang
berisi curahan hati wartawan media cetak atas kondisi meruginya bisnis
koran, perdebatan muncul terkait apakah koran benar-benar akan berakhir.
Nyatanya, sejak tahun 2009, penurunan bisnis koran telah terjadi dan
dirasakan di beberapa negara di dunia, termasuk di Amerika Serikat,
seiring penurunan pendapatan dari sektor iklan. Tapi, apakah benar
demikian?
Sesungguhnya hal sebaliknyalah yang terjadi. Bisnis koran masih bisa
hidup. Pemilik Amazon yang saat ini menjadi orang terkaya di dunia, Jeff
Bezos bukanlah pengusaha “ecek-ecek” yang sebegitu gilanya menghabiskan
US$ 250 juta ketika ia membeli The Washington Post pada 2013 lalu.
Ia tentu melihat koran masih bisa hidup di era yang semakin maju ini.
Artinya, prospek bisnis media cetak masih bisa bertahan di tengah
digitalisasi informasi dan komunikasi, tergantung bagaimana ia dikelola
oleh pemiliknya.
Dengan demikian, apa yang terjadi pada Jawa Pos boleh jadi bukan
karena kemunduran bisnis koran yang tersaingi oleh media daring, tetapi
pada bagaimana bisnis tersebut menyesuaikan diri pada perkembangan
zaman. Jika demikian, maka faktor regenerasi memang menjadi masalah
utama yang menimpa Dahlan Iskan dan Jawa Pos.
Pada akhirnya, publik masih akan mengamati apakah Dahlan dan Jakob Oetama sebagai dua media mogul
utama Indonesia yang berlatar belakang wartawan akan benar-benar
berakhir kekuasaannya? Apakah mereka akan digantikan oleh
pengusaha-pengusaha lain yang memandang koran sebagai entitas bisnis
tunggal – terpisah dari cita-cita jurnalismenya?
Yang jelas, seperti kata Rupert Murdoch di awal tulisan ini:
kesuksesan koran sedari awalnya adalah ketika ia menyediakan berita yang
menjadi kebutuhan para pembacanya. Selama itu bisa dipenuhi, baik Jawa
Pos maupun Kompas Gramedia masih akan tetap menjadi “kaki-kaki”
jurnalisme di Indonesia. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (red)



COMMENTS