Ak8media.com - Jurnalis yang menyatakan hal tersebut tak sembarangan. Ia adalah veteran yang sudah malang melintang hampir 40 tahun d...
Ak8media.com - Jurnalis yang menyatakan hal tersebut tak sembarangan. Ia adalah
veteran yang sudah malang melintang hampir 40 tahun di dunia
jurnalistik. Dalam tulisannya berjudul “Widodo’s Smoke Mirrors Hide Hard Truth”, melalui kanal Asia Times, John McBeth menulis jika Presiden Jokowi sering melakukan pencitraan untuk menutupi kegagalan proyek-proyek ambisiusnya.
McBeth memaparkan kegagalan Jokowi mulai dari alotnya nego
kesepakatan dengan Freeport, proyek pembangunan kereta cepat Jakarta –
Bandung, hingga klaim keberhasilan swasembada pangan. Selain gagal,
media di Indonesia, menurutnya juga tak memberi porsi untuk menanyakan
dengan kritis keberlanjutan proyek dan kebijakan Jokowi tersebut.
Tulisan viral ini mau tak mau membuat beberapa media Indonesia
akhirnya ikut mengulas dan menerjemahkan tulisan McBeth, terutama media
yang beroposisi dengan Presiden. Dari sana, ada pula yang ikut
menambahkan keburukan Jokowi, tetapi tak sedikit pula yang menyela sang
jurnalis.
Media dan jurnalis Indonesia bukannya tak mau dan tak bisa bersikap
kritis terhadap kebijakan Jokowi. Memberitakan hal demikian memang topik
sensitif serta memerlukan keakuratan fakta dan analisis. Salah satu
netizen sempat berkomentar, kalau jurnalis lokal bisa terciduk bila yang
diberitakan salah.
Selain membuat heboh media dan sebagian jurnalis lokal, tulisan
McBeth ini mau tak mau membuat penasaran akan siapa dia sebenarnya dan
juga sepak terjang media di mana dirinya berada.
Seperti yang diketahui bersama, kritik jurnalis asing terhadap
pemerintahan Indonesia tak hanya datang kali ini saja. Di tahun 2017
lalu, Allan Nairn dari The Intercept juga pernah menulis
tentang keterlibatan para jenderal untuk mengkudeta Presiden Jokowi guna
menghindari pengadilan kejahatan pelanggaran HAM 1965.
Walau kebenarannya sangat mudah disangsikan, tetapi sebagai jurnalis,
Nairn banjir sorotan. Begitu pula dengan media tempatnya berada, The Intercept, yang ternyata memiliki afiliasi dengan pengusaha besar Amerika, George Soros.
Sama halnya dengan Nairn, McBeth pasti memiliki kisah panjang dan
koneksi mumpuninya sendiri. Walau kritiknya bernas, tak menutup
kemungkinan jika dirinya membawa pesan ‘khusus’ dari sang pemilik dalam
kritik-kritik runtutnya soal pencitraan dan kegagalan Jokowi.
John McBeth, Peneropong Asia Tenggara
John McBeth adalah jurnalis berkebangsaan Selandia Baru. Lahir tahun
1944, dan sudah menghabiskan empat dekade dalam hidupnya di lapangan
sebagai jurnalis dan reporter. Ia mengawali karirnya sebagai reporter di
Taranaki Herald tahun 1962, lantas pindah ke Auckland Star di akhir 1965.
Ia sempat hijrah ke Inggris, berharap akan bernasib mujur, tapi
sayang kepahitan membuatnya harus kembali pindah. Tetapi ia tak kembali
ke Selandia Baru, melainkan ke Asia Tenggara menggunakan kapal kargo
pembawa barang. Ia menjejakkan kaki di Tanjung Priok, lantas melanjutkan
perjalanan ke Bangkok dan Singapura.
Di Bangkok-lah karirnya mulai moncer. Di negara gajah putih tersebut, ia bekerja di Bangkok Post
dan banyak menulis pemberitaan seputar tentara Khmer. Secara kebetulan,
keadaan politik Thailand sangat lah bergejolak dan dirinya banyak
terjun ke lapangan meliput peperangan.
Sementara itu, karya McBeth baru menemui gongnya saat meliput
pengembangan senjata nuklir yang dilakukan Korea Utara bersama dua
jurnalis lain, Nayan Chanda dan Shada Islam. Tulisan mereka ditampilkan
di Review, namun tak terlalu mendapat respon berarti dari masyarakat.
Walau begitu, pemerintah Australia meminta laporan investigasi yang
disusunnya diturunkan kembali karena dianggap berbahaya. Setahun
kemudian, media Newsweek Australia dan Washington Post Amerika ternyata keluar dengan pemberitaan serupa.
Tetapi, berbanding terbalik dengan media McBeth berada, kedua media
yang belakangan melaporkan pengembangan senjata nuklir Korea Utara
tersebut mendapat sambutan, respon, dan sorotan yang ramai.
Kembali
pada kritik McBeth kepada Jokowi. Dalam sepak terjangnya, ternyata tak
hanya Jokowi yang pernah ‘ditunjuk’ tajam olehnya melalui tulisan. Di
tahun 2016, McBeth pernah membahas panjang sepak terjang Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dalam buku tebal berjudul The Loner.
Tak hanya kebijakan selama 10 tahunnya saja, ia bahkan juga mengupas sisi personalitas SBY yang dinyatakan oleh psikonalis Angkatan Darat AS sebagai ‘penyendiri’. Ia juga menyebut pemerintahan SBY salama 10 tahun sebagai dekade yang hilang alias “The Lost Decade”.
Setya Novanto juga tak lepas darinya. Ia menyebut Setya Novanto
sebagai Mr. Teflon dan Tuan-yang-tahu-segalanya. Ia tak juga tak
ketinggalan menyorot deretan jenderal yang berada di sisi Presiden
Jokowi, salah satunya Gatot Nurmantyo, yang sempat dibilangnya
berpotensi mengguncang stabilitas politik negara.
Ketika menyorot Jokowi, menelanjangi pencitraan dan kegagalannya pun
tak hanya dilakukan kali ini saja. McBeth bahkan mengulas dengan keras,
bila Jokowi berhasil naik ke tampuk pemerintahan menggunakan politik populisme.
Atas sepak terjangnya itu, ia sempat dituduh sebagai agen Central Intelligence Agency
(CIA) oleh jurnalis lain, bernama John Pilger. Pilger merupakan
jurnalis asal Austraia yang berbasis di Inggris. Berbeda dengan McBeth
yang selalu memilih media ‘medium’, Pilger adalah jurnalis veteran cum pembuat film dokumenter yang kerap menulis di media ‘besar’, seperti The Guardian dan Al Jazeera.
Tuduhan itu disampirkannya dengan bukti keterlibatan Mcbeth yang
sangat intens dengan anggota CIA, keikutsertaannya dalam film dokumenter
berjudul Deer Hunter, dan tulisan-tulisannya yang kerap mengisi portal berita yang dibiayai oleh CIA, yakni Forum World Features.
Hal tersebut ditangkis McBeth, dengan berbalik jika Pilger merasa sakit hati sebab salah satu rekan jurnalis di Far Eastern Economic Review, Bangkok, menemukan bukti jika dirinya membeli seorang anak.
Menurut Mcbeth, Pilger tak percaya jika seorang jurnalis Thailand bisa
membongkar keburukannya, jadi pria berusia 78 tahun tersebut memburu
Mcbeth.
Kebenaran seputar status McBeth bekerja untuk CIA, masih jadi
pertanyaan sampai saat ini. Dirinya memang sudah menolak dengan
mengatakan isu jurnalis bekerja untuk CIA adalah tuduhan murahan. Ia
juga menambahkan bahwa setiap wartawan pun pasti punya hubungan dengan CIA, tak terkecuali Pilger.
Lantas, bagaimana dengan media di tempat ia bernaung? Asia Times juga punya sejarah tak kalah seru.
Asia Times, Anak Taipan Thailand
Asia Times namanya memang tak setenar Washington Post atau bahkan Times asal Amerika. Namun pendirinya sempat memiliki cita-cita membesarkan Asia Times sebesar media-media nomor satu Amerika, tapi dalam skala Asia Tenggara atau paling tidak di Thailand saja.
Saat ini, Asia Times berbasis di Hongkong dan dipimpin oleh
Uwa Parpart, mantan ekonom sekaligus editor. Walau begitu, awal
kelahiran Asia Times memang berada di Thailand, lebih tepatnya di
tengah-tengah gejolak politik antara perdana menteri saat itu, Thaksin
Shinawatra dengan para oposisinya.
Unik dan serunya, pendiri dan pemilik awal Asia Times, yakni
Sondhi Limthongkul punya hubungan yang panjang dengan sang mantan
perdana menteri, Thaksin Shinawatra. Sosok Sondhi di Thailand, jika
hendak disamakan dengan suatu tokoh di Indonesia, barangkali adalah
Harry Tanoesoedibjo (HT), taipan media di Indonesia. Sondhi pun juga
dikenal sebagai taipan dan miliuner yang memiliki koneksi luas kepada
jaringan politisi dan pemerintahan Thailand.
Sondhi tercatat pernah sangat setia, bahkan bersahabat dekat dengan
Thaksin. Seperti halnya Sondhi, Thaksin juga adalah seorang pengusaha
Thailand. Di tahun 1996, harta Sondhi mencapai 600 miliar USD. Sementara
Thaksin, baru memiliki harta sebanyak itu di tahun 2015 dan berhasil
duduk di deretan ke-19 orang terkaya Thailand.
Lantas, bagaimana hubungan Sondhi dan Thaksin, serta kelahiran Asia Times?
Hubungan ketiganya terbentuk saat Sondhi tiba-tiba berbalik badan
menjadi kelompok anti-Thaksin. Disinyalir, persaingan bisnis membuat
Sondhi terus merongrong pemerintahan Thaksin.
Ia bahkan sampai mendirikan partai bernama Partai Aliansi Rakyat untuk
Demokrat (PAD). Dalam melaksanakan aksi protes, kelompoknya, menggunakan
simbol kaos kuning “Yellow Shirt”, sementara pendukung Thaksin
menggunakan simbol kaos merah “Red Shirt”.
Pergolakan antara Kaos Kuning dan Kaos Merah ini menemui titik tertinggi saat Sondhi diserang habis-habisan oleh, yang diduga, Angkatan Darat Thailand. Hal ini dilakukan karena kelompok anti-Thaksin menduduki kantor-kantor pemerintah dan Bandara Bangkok selama berbulan-bulan.
Atas insiden itu, Sondhi tertembak di tengkoraknya dan harus
menjalani operasi. Ia beruntung bisa selamat dan kembali menjadi aktivis
sembari membesarkan media Asia Times di tahun 1997. Media ini merekrut jurnalis-jurnalis yang dinilai ‘berani’ dari Asia maupun ‘Barat’. Hingga akhirnya, oleh The New York Times, dianugerahi sebagai media terbaik dalam mengulas isu politik di Asia Tenggara tahun 2006.
Seiring berjalannya Asia Times, Thaksin pun ikut dikudeta
oleh tentara Angkatan Darat Thailand. Nasib buruk ternyata sama-sama
terjadi pada Sondhi dan Thaksin. Setelah Thaksin dikudeta, Sondhi
mengalami kebangkrutan karena membayar denda hingga mencapai 6 miliar
USD. Sondhi juga diadili di tahun 2015 atas kasus pencemaran nama baik
oleh Thaksin dan dihukum 20 tahun penjara.
Seperti halnya pengusaha lain, Sondhi pun sangatlah memperhatikan
bagaimana bisnis bekerja dan mengalir di sekitarnya. Sebagai seorang
miliuner Thailand, kepentingan bisnisnya bisa diamati dengan mudah
melalui media berita miliknya.
Intensinya melawan Thaksin, tak bisa pula dilepaskan dari kepentingan
bisnis, di mana posisinya sebagai miliuner di Thailand berlomba dengan
Thaksin yang juga pengusaha cum politisi. Tetapi pada akhirnya, fakta yang terjalin menggambarkan posisi Thaksin jauh lebih kuat dibanding dirinya, baik sebagai pengusaha maupun politisi.
Asia Times yang berganti wajah besar-besaran di tahun 2016,
adalah salah satu dampak dari kejatuhan mantan pemilik yang saat ini
masih mendekam di penjara dan bahkan mulai mengalami kebutaan mata sebelah kiri. Melalui tangan baru – dari sosok kepercayaan Sondhi, tentu saja – Asia Times seakan ingin melepas pahit pergolakan di Thailand dan membawanya ke Hongkong.
Asia Times, Corong Para Investor?
Dalam sebuah ulasannya di Inpress Global, Balqis Ariffin pernah menganalisa kualitas berita yang dihasilkan Asia Times dengan The Strait Times. Sebagai tambahan info, kedua media ini juga pernah disambangi oleh McBeth, veteran jurnalis yang sudah diceritakan sebelumnya.
Saat membahas Asia Times, Balqis menulis bahwa Asia Times
lebih banyak memberikan perspektif yang sinis dan sangat berat berpihak
pada kepentingan pihak lain. Dalam konteks penulisan, Balqis berbicara
mengenai perbatasan wilayah antara Malaysia dan Tiongkok. Menurut
Balqis, Asia Times sangat berat mendukung Tiongkok dan
kepentingan bisnisnya. Jika kembali pada tulisan “Widodo’s Smoke and
Mirrors”, sebetulnya perspektif berat sebelah bernuansa serupa juga
terasa, yakni kepada pihak investor.
Asia Times, selain membahas permasalahan politik, juga
meneropong perkembangan ekonomi dan bisnis di Asia Tenggara. Bukan tak
mungkin jika rentetan keburukan Jokowi yang dibuka Asia Times dalam mengelola proyek-proyek infrastruktur, adalah semata menyuarakan perspektif dan suara para investor melihat perkembangan bisnisnya.
Pada akhirnya, McBeth, sebagaimana halnya Sondhi yang juga seorang
miliuner, sepertinya berusaha menjadi corong bagi pengusaha atau
investor lain dengan mengkritik kebijakan Jokowi yang membuat bisnis
menjadi tersendat melalui intrik “kaca dan asap”. Dari sini pula,
sorotan, pembahasan, dan klik kepada Asia Times ikut banjir. (red)



COMMENTS