Ak8media.com - Apakah naif mengatakan bahwa fasisme akan muncul kembali di Indonesia? Paham ultranasionalis otoritarian radikal yang d...
Ak8media.com - Apakah naif mengatakan bahwa fasisme akan muncul kembali di Indonesia?
Paham ultranasionalis otoritarian radikal yang dicirikan oleh adanya
kepemimpinan yang diktator, supremasi ras atau golongan tertentu,
kontrol penuh terhadap pihak oposisi, anti toleransi, serta kontrol
ekonomi yang tersentralisasi ini memang menjadi bagian kelam dari
sejarah manusia.
Bukan tanpa alasan, fasisme adalah salah satu warna utama Perang Dunia II yang merupakan pertempuran militer terbesar sepanjang sejarah manusia dengan korban mencapai 60 juta jiwa di seluruh dunia.
Hal inilah yang membuat ada trauma sejarah yang luar biasa besar di
hampir seluruh dunia ketika membicarakan Adolf Hitler dengan Nazi-nya di
Jerman, atau Benito Mussolini dengan Partai Fasis Nasional-nya di
Italia, atau kisah tentang Jenderal fasis Jepang Tojo Hideki yang
memimpin negara itu selama periode Perang Dunia II.
Butuh lebih dari sekedar keberanian untuk menyebut fasisme sedang
menampakkan kembali wajahnya di Indonesia. Setidaknya, itulah yang
dilakukan oleh Indonesianis berkebangsaan Jerman dari Universitas Bonn,
Timo Duile ketika menyebut fasisme dalam kemasan baru sedang muncul
kembali di Indonesia.
Dalam tulisannya di portal Deutsche Welle
(DW), Timo menyebutkan bahwa memanasnya isu LGBT, kembali menguatnya
perbincangan tentang tragedi 1965 dan segala bentuk politisasi isu
tentangnya, kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas, serta
berbagai isu rasial yang muncul belakangan ini menguatkan fakta bahwa
fasisme – dalam hal ini dengan ‘meminjam’ kemasan religius – sedang
menampakkan kembali sosoknya ke permukaan.
Apakah benar demikian? Lalu, jika bangkit ‘kembali’, apakah benar fasisme memang pernah ada di bumi pertiwi?
Jejak Fasisme di Indonesia
Ribut-ribut tentang fasisme memang telah terjadi beberapa tahun belakangan. Ketika portal berita Jerman Der Spiegel menyoroti
baju Ahmad Dhani yang disebut mirip dengan seragam pemimpin sayap
militer Nazi, Heinrich Himmler dalam kampanye dukungan untuk Prabowo
Subianto pada 2014 lalu, semua orang ribut membicarakan fasisme.
Hal yang sama juga terjadi ketika harian asal Hong Kong South China Morning Post menurunkan
tulisan tentang obsesi terhadap Hitler dan Nazi di Indonesia pada
September 2017 lalu. Fasisme seolah muncul kembali ke permukaan dan
secara tidak langsung juga mengundang kembali perdebatan tentang paham
ultranasionalis yang intoleran ini.
Jika ditinjau dari sejarahnya, faktanya fasisme bukanlah paham baru
di Indonesia. Saat masih dijajah Belanda, fasisme muncul seiring dengan
kemenangan Nazi di Jerman pada tahun 1933.
Gelombang pengaruh Hitler melahirkan partai fasis di Indonesia
saat itu, yakni Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO),
Facisten Unie (FU), Nationaal-Socialitische Nederlandsche
Arbeiderspartij (NSNAP) serta perwakilan resmi Nazi Jerman di Indonesia
Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP).
Namun, gerakan fasisme pribumi baru menampakan kehadirannya ketika
Partai Fasis Indonesia (PFI) didirikan oleh orang Indonesia asli, Dr.
Notonindito pada Juli 1933. PFI menjadi bukti bahwa fasisme pernah ada
di Indonesia dalam gerakan yang digalakkan oleh kelompok pribumi –
walaupun partai ini sempat dikritik sebagai bagian dari organisasi
etnonasionalis Jawa bernama Komite Nasionalis Jawa pimpinan Soetatmo Soerjokoesoemo.
Pada 1935 muncul Partai Indonesia Raya (Parindra) dan Gabungan Partai
Politik (Gapi) pada 1936, lalu berdiri Gerakan Rakyat Indonesia
(Gerindo) pada 1937 yang dituduh sebagai salah satu manifestasi fasisme
di Indonesia. Parindra yang didirikan Sartono, Amir Sjarifuddin, dan
Mohammad Husni Thamrin adalah partai terbesar pada waktu itu.
Parindra misalnya dituduh Belanda menggalang hubungan erat dengan
Jerman dan Jepang. Horst H. Geerken dalam bukunya yang berjudul Hitlers Griff nach Asien
memang menyebut Husni Thamrin sebagai salah satu tokoh Indonesia yang
sangat mengagumi Hitler dan Nazi. Ia disebut berusaha menyatukan delapan
partai kecil lain yang berideologi Nazi untuk bersatu dalam Gapi.
Belanda mencurigai aktivitas Thamrin ini dan bahkan menganggap
dirinya lebih berbahaya dibanding Soekarno. Ia sempat dikenai tahanan
rumah akibat hal tersebut, sebelum akhirnya meninggal secara ‘misterius’
beberapa waktu kemudian.
Masih dalam bukunya tersebut, Geerken memuat foto rombongan petinggi
Parindra yang mengiringi jenazah Thamrin, dipimpin Ketua Parindra
Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto. Sementara para pemuda anggota
Parindra mengenakan seragam celana pendek dan kaus kaki sampai sebetis,
berbaris rapi di sebelah kanan dan kiri dengan penghormatan gaya ‘Heil Hitler’ yang umumnya dilakukan oleh tentara Nazi kepada sang pemimimpin.
Namun, menurut sejarahwan Rushdy Hoesein,
Parindra memang terpengaruh oleh Nationaal Socialistische Beweging
(NSB), partai yang beraliran Nazi-isme. Anggota Parindra memang
berpakaian model Nazi. Namun, tidak ada bukti bahwa Thamrin adalah
seorang fasis. Thamrin justru menyebut dirinya nasionalis. Yang jelas,
fasisme – jika benar demikian – nyatanya tidak mendapatkan tempat ketika
Indonesia merdeka.
Hal yang menarik adalah dari barisan tokoh-tokoh Parindra, ada nama
Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang tidak lain adalah kakek dari
Prabowo Subianto. Cita-cita Parindra juga dianggap melampau perjuangan
zaman itu yang umumnya berfokus pada kemerdekaan. Parindra memvisikan greater Indonesia – sebuah konsep yang saat ini menariknya ada dalam Partai Gerindra yang didirikan oleh Prabowo Subianto.
Apakah itu berarti Gerindra mewarisi ‘semangat’ Parindra? Masih sulit
untuk menyebut demikian. Yang jelas, pada November 2009, Aboeprijadi
Santoso menulis di portal Inside Indonesia terkait kesamaan visi antara dua gerakan beda zaman tersebut.
Ia menyebut Gerindra dan Parindra memiliki kesamaan visi, yakni Indonesia’s Renaissance – Kebangkitan Indonesia. Bahkan, saat mendirikan Gerindra di tahun 2008, Prabowo sempat berencana untuk memakai nama Parindra sebagai partai barunya itu.
Lalu, apakah itu berarti gerakan ini adalah fasisme? Hal ini sulit
dibuktikan dan berpotensi melahirkan persoalan hukum – terutama bagi
mereka yang membuat tuduhan tersebut. Yang jelas, Aboeprijadi Santoso
sempat menyebut istilah chauvinistic bravado – patriotisme ekstrim – untuk menggambarkan gaya politik dan kampanye Prabowo saat itu.
Fasisme-Religius, Masa Depan Indonesia?
Memasuki tahun politik, muncul perdebatan tentang kebangkitan gerakan
ultra-kanan – dalam hal ini fasisme – yang dianggap sedang kembali
menemukan bentuknya di Indonesia. Tentu sebagian pihak akan skeptis
dengan pandangan yang diungkapkan oleh Timo Duile ini. Apakah benar
demikian?
Timo memang menyebut bahwa agama bisa ‘diperalat’ oleh
fasisme. Fasisme-religius ini – jika ingin disebut demikian – akan
mengisi ceruk-ceruk pilihan politik masyarakat dengan gerakan anti
terhadap identitas lain. Fasisme akan menemukan wajah baru melalui
identitas mayoritas, yang pada titik tertentu mengembalikan memori akan
trauma fasisme lampau dengan segala kerusakan yang ditimbulkannya.
Hal ini juga diungkapkan oleh seorang penulis independen bernama Faiz Manshur
yang mengutip kehawatiran Mansour Fakih (alm) delapan tahun silam. Ia
menyebut krisis gawat – entah politik maupun ekonomi – yang terus
melanda Indonesia tidak mustahil menjadi bibit-bibit persemaian fasisme.
Ini bisa dibuktikan oleh fakta adanya berbagai organisasi yang gemar
memobilisasi massa, arak-arakan, dan gemar melakukan tindak kekerasan
untuk memaksakan kehendaknya.
Yang jelas, Nazi mengeksekusi orang-orang dari kelompok minoritas, termasuk homoseksual (LGBT) dan orang-orang Yahudi tentu saja. Dengan menguatnya gerakan politik anti terhadap LGBT belakangan ini misalnya, serta meningkatnya sentimen rasial terhadap etnis tertentu, tidak ada yang meragukan bahwa apa yang terjadi di tahun 1930-an di daratan Eropa mungkin saja berulang di negara-negara timur, termasuk Indonesia.
Pertanyaannya adalah apakah gerakan yang demikian bisa disebut ‘fasisme’? Mungkin perlu lebih dari secangkir kopi untuk menemukan jawabannya. (red)



COMMENTS