Ak8media.com - Guna menghindari adanya kontroversi lebih jauh, Tito akhirnya melayangkan permintaan maaf melalui Ketua Umum Lajnah Tan...
Ak8media.com - Guna menghindari adanya kontroversi lebih jauh, Tito akhirnya
melayangkan permintaan maaf melalui Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah
Syarikat Islam Indonesia, Hamdan Zoelva. Melalui keterangannya, Zulva
berkata, “Beliau (Tito) mengatakan kalau memang ada yang kurang, ada
yang salah, saya memohon maaf. Beliau sampaikan begitu,” jelas Zulfa.
Pihak yang awalnya ‘merongrong’ Tito adalah Tengku Zulkarnain, Wakil
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga petinggi
Front Pembela Islam (FPI). Ia langsung pula mengirimkan sebuah surat
terbuka kepada Tito yang kurang lebih berisi bahwa pernyataan Tito
berpotensi memecah belah umat islam dan ia diwajibkan meminta maaf atas
hal tersebut.
Di sisi lain, perlu pula mengetahui bila video Tito yang beredar tersebut sebetulnya video lama
yang beredar sejak dua tahun lalu, yakni pada Februari 2016. Namun
secara ajaib, video tersebut tiba-tiba kembali muncul dan menuai
perdebatan. Tak salah pula bila banyak yang mencurigai adanya oknum yang
dengan sengaja memainkan isu ini, mungkin demi tujuan dan kepentingan
tertentu.
Walau Syarikat Islam sendiri sudah menyatakan kalau permasalahan
tersebut sudah selesai, namun masih saja ada Netizen yang menggulirkan
dan memperdebatkan. Di sisi lain, tak salah pula bila mengatakan kalau
pernyataan Tito tersebut menunjukkan kurangnya pengetahuan sejarah Islam
di tahan air seperti yang dikatakan oleh sejarawan dan intelektual
Islam, Azyumardi Azra.
Dia berkata melalui Tempo bila, banyak tokoh Indonesia tak
paham akan sejarah bangsanya sendiri, Tito Karnavian adalah salah
satunya. “Banyak orang tidak tahu tentang eksistensi ormas Islam di
Indonesia. Bukan hanya Kapolri, kebetulan tertangkap ketidaktahuannya.
Seandainya ditanyakan kepada pejabat atau tokoh-tokoh negeri ini,
sedikit dari mereka yang paham,” ujarnya.
Lantas apa bentuknya ketidakpahaman sejarah Tito dalam video
tersebut? Lalu, dari sisi mana Tito dizalimi? Ada apa pula dengan Tengku
Zulkarnain dan MUI?
Organisasi Islam dan Kemerdekaan
Seperti yang disebutkan oleh Azyumardi Azra, ada banyak tokoh yang
punya pengetahuan rendah soal sejarah bangsa. Sebelum Tito, Anton
Charliyan, calon gubernur Jawa Barat dari partai Gerindra yang juga
mantan Irjen Polisi pun demikian.
Anton Charliyan pernah berkata, bila Kiai Haji Ahmad Dahlan dan
Hasyim As’syari adalah Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Padahal, Hasyim Asyari sudah meninggal
saat BPUPKI didirikan di tahun 1923 dan yang berada di dalamnya adalah
anaknya bernama Wahid Hasyim.
Sementara Tito berkata, selain NU dan Muhammadiyah, organisasi Islam
yang ada berpotensi merontokkan NKRI juga tak sepenuhnya tepat.
Organisasi Islam pertama di Indonesia malah berjasa mengorganisir massa,
menghimpun kekuatan untuk melawan ketimpangan yang disebabkan monopoli
ekonomi penjajah. Salah satunya adalah, Organisasi Sarekat Dagang Islam
(SDI) yang didirikan tahun 1912.
SDI menjadi cikal bakal organisasi terbesar di Indonesia dengan anggota
lebih dari 2 juta jiwa. Saat Haji Samanhudi, pendiri SDI, merasa
kewalahan mengurus organisasi ini sendirian, ia pun menyerahkannya
kepada HOS Tjokroaminoto. Tjokroaminotolah yang kemudian mengubah nama
SDI menjadi Sarekat Islam (SI). SI di bawah HOS Tjokroaminoto berbasis
di Surabaya.
Melalu SI, keresahan masyarakat karena mengalami kemiskinan
terwadahi. Disatukan dengan agama, keresahan tersebut diolah menjadi
sebuah bentuk advokasi dan aksi-aksi. Ini pula yang dilakukan oleh
organisasi Jamiatul Akhir atau Jamiat Kheir yang berbasis di Tanah
Abang, Jakarta.
Jamiatul Kheir bahkan lahir jauh sebelum SDI ada, yakni sudah sejak
ada sejak 1901. Tahun 1920, Jamiat Kheir baru mendapat pengakuan sebagai
organisasi dari pemerintah Belanda.
Sama halnya seperti SDI, gerakan ini fokus pada masalah sosial dan
kerakyatan. Banyaknya orang yang jatuh miskin akibat pemerintahan
Belanda, membuat organisasi islam seperti ini sangat berkembang pesat.
Kekuatan ini digunakan untuk melawan kolonialisme Belanda.
Organisasi Islam NU dan Muhammadiyah juga lahir atas perjalanan
panjang perkembangan organisasi Islam yang bergonta ganti jas,
kepengurusan, dan juga ideologi. Walau begitu, semua disatukan dengan
upaya mengadvokasi masyarakat melawan Belanda.
Organisasi Islam di masa perjuangan dibangun di atas ideologi kuat, yakni islam. Tetapi mereka tidak kaku dan tidak menolak pemikiran dari luar,
misalnya dengan ideologi marxisme atau liberalisme. Selain itu,
kegiatan organisasi islam diselaraskan dengan persoalan rakyat, seperti
masalah para petani, kaum buruh, pedagang, dan lain-lain.Di masa itu
pula, lahir tokoh-tokoh intelektual Islam progresif seperti Haji
Misbach, Haji Agus Salim, hingga HOS Tjokroaminoto.
Dengan demikian, ungkapan Tito yang secara tak langsung menyebut
hanya NU dan Muhammadiyah yang berjasa membangun negeri, tak adil,
selain tentu saja buta sejarah. Bila melihat beberapa contoh ormas Islam
yang disebutkan di atas, gerakan mereka malah menyumbang usaha dan
keringat tak sedikit bagi keutuhan NKRI. Lebih jauh, bahkan keberadaan
mereka yang menjalin keberadaan NKRI, bukan malah merontokkannya.
Namun bila melihat perkembangan ideologi yang terus menerus terjadi
pada ormas islam saat ini, bisa pula dikatakan perkembangan ideologi
yang mengarah pada ‘ancaman keutuhan dan keberadaan’ NKRI, mulai
menjangkiti. Jika hendak menyebut salah satu yang berbahaya, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bisa menjadi salah satunya.
HTI Tak Beroperasi ‘Senyap’
HTI dibubarkan oleh pemerintah bukan tanpa alasan. Walau pasal yang
menjeratnya sarat polemik, yakni RUU Ormas yang rawan disalahgunakan,
namun HTI berdiri dengan membawa ide radikal.
Radikal di sini memiliki arti bahwa mereka menginginkan adanya
perubahan sistem negara menjadi sistem khalifah. Tujuan tersebut tentu
saja berseberangan dengan Pancasila. Ini pula yang mungkin atau lebih
dekat dengan penerjemahan Tito akan ormas yang berusaha merontokkan
NKRI.
Walau sudah dinyatakan sebagai ormas berbahaya dan dibubarkan, bukan
berarti ideologi hilang sama sekali. Hei Wang Weng, seorang penulis di New Mandala
mengemukakan bahwa walau HTI sudah dibubarkan, penyebarannya tak serta
merta berhenti. Hingga hari ini, bahkan tanpa HTI, ideologi khilafah
terus bisa disebarkan.
Felix Siaw tokoh HTI yang populer
(pengikutnya di media sosial mencapai jutaan orang), barangkali bisa
dinilai sebagai ustadz yang radikal. Tetapi, jika para pendukung
melihatnya, ia lebih dipandang sebagai ustadz gaul. Buku-buku terbitannya, lekat dengan persoalan anak muda, terutama soal asmara. Siapa yang tak tahu Yuk Putusin Aja?
Karena sangat populer, bahkan buku ini juga akan diangkat ke layar
kaca. Ini pun belum menyebut kesuksesan bisnis fashion istrinya dengan
label Alila, dan penerbitannya.
Cara Felix yang sebenarnya seorang mualaf inilah yang perlu diwaspadai. Ia memakai pendekatan apik, mempraktekkan ideologi HTI dengan memakai konsep yang inklusif, yakni Rahmatan lil Alamin
(keberkahan untuk semua makhluk hidup). Namun bagaimana menjalankan
ajaran dakwah inklusif dari seseorang yang memegang ideologi radikal
HTI? Strategi ini yang menjadikannya bisa ‘bebas’ mempromosikan ideologi
HTI, tanpa membawa nama organisasi dan bahkan aman dari pelanggaran
hukum.
Jika
apa yang dianggap Tito sebagai ormas berbahaya adalah HTI, tentu hal
itu bisa diterima. Walau dalam perjalanannya, HTI ‘jarang’ memakai
cara-cara kekerasan dan lebih persuasif, untuk mempromosikan
ideologinya, namun ia tetap saja berseberangan dengan NKRI.
Lantas, sebagai pihak yang merongrong Tito Karnavian, posisi Tengku
Zulkarnain juga membingungkan. Sebagai orang penting di MUI dan pihak
yang memaksa supaya Tito memohon maaf, ia seakan tak mendapat dukungan
dari tempatnya berasal. Benarkah ini hanyalah pernyataan personal
dirinya saja?
MUI dan Tengku Zulkarnain, Jarang Seirama
Saat Tengku Zulkarnain melayangkan surat pribadi yang ditunjukan
kepada Tito Karnavian, MUI langsung mengambil suara dan berkata apa yang
dilakukan Tengku adalah pernyataan pribadi, bukan mewakili lembaga MUI.
Perkataan tersebut datangnya tak sembarang, yaitu dari Ma’aruf Amin,
sang Ketua MUI. “Karena memang tak ada maksud untuk menafikan peran
ormas-ormas lain tidak berjasa di negeri ini,” jelas Ma’ruf. Wakil Ketua
MUI juga ikut berkata bila kritik Tengku Zulkarnain kepada Tito adalah atas nama pribadi, bukan secara lembaga.
Perbedaan ini tak hanya terjadi sekali saja, MUI seringkali lebih
memilih untuk berjauhan dengan beberapa pernyataan dan kejadian yang
menimpa petinggi Front Pembela Islam (FPI) tersebut. Saat Tengku
Zulkarnaen ditolak oleh warga Dayak beberapa waktu lalu, MUI hanya
memberi pernyataan bila pihaknya tak tahu menahu kabar tersebut.
Begitu pula saat Tengku Zulkarnaen ketahuan melakukan kesalahan saat
mencantumkan sebuah ayat Alqur’an. Salah satunya adalah saat sang ustadz
tersebut berkata siapapun yang menghina ulama, maka akan disambar petir
sampai hangus. Tengku Zulkarnain menyebut pernyataan itu ada di Surah
Attaubah ayat 20 – 22. Namun saat diteliti, apa yang dikatakannya tak
ada. MUI memilih menolak menganggapi hal tersebut.
Tengku ini juga memiliki catatan yang kerap menyerang Jokowi dan Tito
Karnavian dalam beberapa kesempatan. Tentu saja apa yang dilakukannya
berpolemik bagi MUI, sebab bagaimana pun, MUI membutuhkan dukungan dari
pemerintah untuk tetap bisa ‘kuat’ di Indonesia.
MUI sejak awal berdiri memang memiliki hubungan yang kompleks dengan pemerintah,
sebagai pendiri dan penyalur dana kepada lembaganya. Setelah kejatuhan
Soeharto di tahun 1998, peran MUI secara sedikit tapi pasti mulai
berkembang ke ranah formal, yakni ke dalam sistem negara dengan kerangka
sistem dan tradisi islam. MUI mendapat peran dengan mengeluarkan fatwa
dan sertifikasi halal. Ini yang menjadikan MUI sebagai salah satu ormas
perkumpulan ulama terbesar dan terkuat di Asia Tenggara.
Walau kuat, MUI tetap saja membutuhkan peran pemerintah untuk tetap
menjalankan fungsi formalnya tersebut. Dengan demikian, sebetulnya
posisi Tengku Zulkarnaen di dalamnya menjadi sebuah riak tersendiri.
Bila mengumpulkan jejak Tengku Zulkarnaen yang hampir selalu
berseberangan dengan pemerintah, bukan tak mungkin kehadiran video lama
dari Tito dan segala polemiknya memang sengaja dihadirkan untuk
memperkeruh suasana. (red)



COMMENTS