Zakaria Dimas SIDOARJO- L ayaknya gelombang diwaktu siang dan malam, kaderisasi PMII Sidoarjo dari generasi ke generasi pun pasti mengal...
![]() |
| Zakaria Dimas |
SIDOARJO- Layaknya gelombang diwaktu siang dan malam, kaderisasi PMII Sidoarjo dari generasi ke generasi pun pasti mengalami pasang dan surut. Kondisi demikian pertama sekali bergantung pada apa yang telah digariskan olehNya dan bagaimana sumber daya kader dalam mengelola setiap kemungkinan dan peluang yang ada, karena garis akan selalu menyesuaikan pola.
Disetiap Kader maupun Anggota, siapa pun dia, pasti melekat harapan padanya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dan sejahtera. Kader yang bisa memelihara idealismenya itulah yang bisa dijadikan tempat menggantungkan harapan masa depan, karena itulah yang merupakan harapan umat untuk menciptakan kecemerlangan dan kejayaan merupakan suatu tanggung jawab kita semua sebagai insan pergerakan.
Saya berpendapat bahwa kaderisasi itu seperti air dan udara. Artinya, kaderisasi adalah hal yang mudah diperoleh dan sangat penting bagi kehidupan. Kaderisasi juga merupakan sebuah keniscayaan mutlak membangun struktural kerja yang mandiri dan berkelanjutan.
Fungsi Kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang dalam tanda kutip "SIAP" Siap disini memiliki suatu kapasitas, Solidaritas, Integritas, Mentalitas, dan Profesionalitas yang berperan bukan dalam tanda kutip "dipaksakan" untuk upaya melanjutkan tongkat estafet perjuangan pada dalam tubuh pmii dari yang terdahulu dan tak bisa begitu saja digadaikan dengan sebuah kepentingan menggalang kekuatan ataupun melanggengkan kekuasaan. Alangkah kotornya isi kepala tengkorak kekuasaan. Itulah sebabnya kepala raja harus dihias sengan mahkota (Aryo Bekti, W. S Rendra 1986:144) suatu kiasan diatas merupakan gambaran suatu kesalahan yang ditutupi dami dari suatu kekuasaan.
Ini merupakan suatu dinamika yang harus kita selesaikan bersama bahwa kaderisasi pmii saat ini mungkin mulai dirasa tidak penting oleh sebagian oknum karena yang terpenting adalah dimana dapat menang bertarung dengan mata yang terkurung. melihat realitas pmii sidoarjo yang mengalami Disorientasi dipengaruhi dengan mulai munculnya kader-kader pragmatis dan romantis yang meninggalkan budaya literasi maupun advokasi yang telah dibangun oleh para pejuang kaderisasi terdahulu.
Hal mendasar sebagai indikator untuk membenarkan Distorsi tersebut adalah terlalu banyak kepentingan personalia ( pribadi ) seseorang dalam berpartisipasi di ditubuh pmii, dan menafikkan kepentingan bersama ( umum ), baik itu kepentingan materil ataupun kepentingan intelektual.
Salah seorang tokoh sosial yaitu E.Humans menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan hadiah, atau untuk mendapatkan keuntungan. Seseorang yang dinyatakan oleh E.Humans sebagian banyak didapati dalam organisasi pmii di sidoarjo yang mana mereka berpartisipasi dalam organisasi semata-semata hanya untuk kepentingan pribadi, atau dalam bahasa lainnya pragmatisme dalam berorganisasi.
Meninjau dari beberapa kutipan yang pernah saya baca salah satunya adalah Berfikir Kritis dan Berani Bertindak adalah Kita (Syahrir). orang-orang yang mempunyai sikap seperti ini selalu dikandaskan dalam menegakkan apa yang diyakininya adalah suatu kebenaran yang tak bisa mati akan terus ada dan terus berlipat ganda. Orang-orang dengan tipe seperti ini memang sangat jarang dan sedikit keberadaannya.
Jumlah mereka yang sedikit dikarenakan untuk menegakkan sikap ini diperlukan nyali dan semangat yang tinggi bahkan harus melawan cemoohan, hinaan, fitnah an dan melawan oligarki pada kelompoknya sendiri. tanpa modal tersebut sikap ini tidak akan pernah muncul.
Karena problem mendasar PMII hari ini adalah sulitnya mencari “kader idealis dan ideologis”, yaitu berpegang teguh pada nilai-nilai ahlusunnah waljamaah ala PMII dan menjalankan rumah tangga pmii dengan NDP sebagai kitab pedomanya.



COMMENTS